19 September 2020, 19:56 WIB
Last Updated 2020-09-19T12:56:32Z
KEMENTRIAN

KKP Dorong Budidaya Teripang Untuk Tingkatkan Ekspor

Advertisement


MEJAHIJAUH.NET, LAMPUNG - Saat membuka webinar bertajuk Akuakultur Teripang di Indonesia, Kamis (17/09/2020) kemarin, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, mengatakan bahwa keberadaan  populasi Teripang di Indonesia, maupun di Dunia, pada umumnya dalam kondisi yang semakin menurun.


Kenapa? Karena terus dilakukan eksploitasi, dan dilakukan penangkapan-penangkapan, untuk keperluan industri obat-obatan, dan lainnya.


Slamet, berpendapat hal ini tidak bisa kita diamkan begitu saja.


“Memang harus kita akui bahwa ekspor Teripang, setiap Tahun-Nya mengalami kenaikan. Kalau kita lihat di data Tahun 2012,sampai 2019, ekspor Teripang memang naik, tetapi ini berasal dari penangkapan di alam”, sebutnya.


Menurutnya, budidaya adalah kata kunci untuk mengatasi permasalahan tersebut.


“Inilah yang harus kita lakukan kedepannya, harus banyak memproduksi Teripang-Teripang, dari hasil budidaya. Kita harapkan kedepan ekspor Teripang berasal dari pembudidayaan, dan tantangan para pembudidaya yaitu bagaimana memperbanyak benih-benih ini untuk proses budidaya”, kata Slamet


Ia menjelaskan bahwa saat ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, sangat mendorong sekali pengembangan budidaya Teripang di Indonesia, untuk dapat ditingkatkan, dan dikembangkan. 


“Sejauh ini kita mengetahui bahwa ekspor Teripang Dunia yang terbesar adalah dari Indonesia. Ini luar biasa, kita tahu bahwa Indonesia sebagai Negara tropis, dan mempunyai perairan yang begitu luas, dengan habitatnya yang sangat memenuhi persyaratan, untuk tumbuh, dan bereproduksi Teripang ini, sehingga produksi di alam cukup banyak”, tambah Slamet. 


Keberhasilan pembenihan yang telah dilakukan Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung, membuka peluang berkembangnya budidaya Teripang, khususnya jenis Teripang Pasir. Ini menjadi prospek yang luar biasa kedepannya untuk dikembangkan.


“Saya memberikan apresiasi sebesar-besarnya, dan juga penghargaan kepada BBPBL Lampung, yang telah memproduksi massal pembenihan, dan juga telah menemukan teknologinya untuk pembesaran Teripang, serta telah melakukan kegiatan terkait dengan pemeliharaan di Laut, atau dengan cara melakukan Restocking, pada kawasan slSea Ranching, yang aman dari predator, pencuri, dan terlindung dari angin, arus, dan gelombang”, tutur Slamet. 


Slamet, mengungkapkan keberhasilan tersebut merupakan satu terobosan, dan langkah yang baik sekali, sebagai upaya untuk mensosialisasikan, dan sekaligus memberi satu edukasi, dan juga harapan kedepannya ke arah industri Teripang, karena dari teknologinya sudah dikuasi, baik sisi produksi benih, maupun pembesaran. 


“Inilah saya kira sebagai jawaban kenapa kedepan kita harus memperbanyak, harus masuk ke industri Teripang ini. Industri Teripang bukan hanya di sektor hilirnya saja, dalam rangka proses produksinya, tetapi bagaimana menyediakan bibit-bibit yang unggul, dan juga memperbanyak Teripang-Teripang itu dari pembudidayaan yang kita lakukan”, ucap Slamet. 


Slamet, berharap kedepannya akan banyak Hatchery pembenihan Teripang  yang dapat dilakukan dengan model pusat larva, atau larva center. 


“Segmentasi usaha diperlukan dengan cara memperdayakan banyak orang untuk ikut terlibat, sehingga secara langsung perekonomian mereka juga bertambah”, tambah Slamet. 


Kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Perikanan, dan Ilmu Keluatan IPB, Etty Riani, mengungkapkan Teripang sangat berpotensi tinggi sebagai komoditas ekspor, bahan baku obat, dan kosmetik.


“Potensi teripang untuk dikembangkan tinggi sebagai anti inflamasi, antitoksik, anti bakteri, anti jamur, mencegah kanker, aprodiasiak, anti menopuse, anti aging, anti osteoporitisis serta sebagai anti diabet’, sebut Etty. 


Perekayasa inovasi teknologi budidaya Teripang dari BBPBL Lampung, Dwi Handoko Putro, menjelaskan bahwa di BBPBL Lampung, sudah merintis penelitian terkait Teripang, sehingga hasil-hasil penelitian adalah kunci untuk pengembangan budidaya Teripang. 


“Untuk pembenihan Teripang kita menggunakan metode thermal shock, atau kejut suhu, yang dilakukan saat bulan purnama. Nah, teknik pembenihannya sudah kita ketahui, tinggal bagaimana nantinya mengembangkan untuk memproduksi massal, perlu upaya untuk dapat mencukupi kebutuhan di skala usaha pembesaran”, kata Dwi.


Menurut Dwi, pembudidayaan Teripang cukup sederhana, sebenarnya tidak perlu pakan buatan atau pengobatan yang begitu kompleks. Dengan Laut yang begitu luasnya, dengan model budidaya sea ranching ini dapat dikembangkan Teripang di alam sebagai penyeimbang ekosistem. Selain itu, teripang dapat menjadi indikator pencemaran lingkungan. 


“Untuk metode pengelolaan Teripang mencakup 4 tahapan yaitu penyiangan, perebusan, pengaraman dan pengeringan. Metode pengolahan teripang dilakukan akan berbeda-beda tergantung pada jenis teripang yang akan diolah, pengolahan teripang juga dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat lokal dalam mengolah teripang, biasanya metode pengolahan ini dilakukan secara turun temurun oleh keluarga”, jelas Risal Aprianto, yaitu pelaku usaha dan peneliti pengolahan Teripang, yang juga menjadi narasumber pada webinar tersebut. (BE)