Post ADS 1
30 August 2026, 07:56 WIB
Last Updated 2026-08-30T00:57:33Z
HeadlineOpini

Guru Berhasil Mendidik Siswanya, Namun Gagal Mendidik Anak Kandungnya: Sebuah Paradoks Pendidikan

Post ADS 1

Oleh: ANTON SUNANTON
- Jurnalis Online Meja Hijau

Ini adalah ironi yang sering kita lihat tapi enggan kita bicarakan.

Di sekolah, sosok guru adalah pahlawan. Ia datang paling pagi, pulang paling sore. Ia sudah memenuhi semua tuntutan negara: ijazah S1, lulus UKG, ikut Guru Penggerak, menyusun modul ajar hingga larut malam. Hasilnya nyata. Di etalase sekolah, berjejer ratusan piala, sertifikat, dan piagam penghargaan. Murid-muridnya lolos PTN favorit, juara olimpiade, dan menjadi kebanggaan.

Guru itu berhasil. Sangat berhasil mendidik anak orang lain.

Namun coba tengok ke dalam rumahnya sendiri.

Di sanalah paradoks itu terjadi. Ada anak kandungnya yang justru putus sekolah. Hanya tamat SD atau SMP. Ada yang menganggur tanpa arah, kecanduan gadget, terjerat pergaulan bebas, bahkan harus berurusan dengan hukum karena kasus kriminal. Sang pencerah di kelas, ternyata gelap di rumahnya sendiri.

Mengapa ini bisa terjadi?

1. Guru Kehabisan Energi di Sekolah, Kehabisan Waktu di Rumah
Ini bukan soal tidak mampu, tapi soal kehabisan baterai. Semua kesabaran, kelembutan, dan keteladanan terbaiknya sudah habis dipakai untuk 30-40 murid di kelas. Sampai di rumah, yang tersisa hanyalah sosok ayah/ibu yang lelah, mudah marah, dan ingin istirahat. Anak kandung tidak mendapat guru, yang ia dapat hanyalah orang tua yang kelelahan.

2. Sindrom "Anak Tukang Kue Tidak Pernah Makan Kue"
Di sekolah, guru sangat profesional, objektif, dan mengikuti prosedur. Di rumah, ia sering terjebak dalam dua ekstrem: terlalu permisif karena rasa bersalah jarang di rumah, atau terlalu otoriter karena merasa "saya kan guru, kamu harus nurut". Tidak ada lagi evaluasi harian dan semesteran untuk anak sendiri.

3. Kita Hanya Menilai Murid, Tak Pernah Menilai Keluarga Guru
Sistem pendidikan kita hanya mengukur keberhasilan guru dari nilai muridnya. Tidak pernah ada ruang untuk bertanya: Bagaimana kabar anak guru itu sendiri? Kemendikdasmen sibuk mengejar sertifikasi, tapi lupa membina ketahanan keluarga pendidik.

Ini bukan untuk menghakimi guru. Ini adalah alarm untuk kita semua.

Sudah saatnya kita berhenti menganggap guru sebagai robot pengajar. Mereka adalah manusia dengan keterbatasan waktu dan tenaga. Negara perlu hadir tidak hanya dengan UKG dan Guru Penggerak, tetapi juga dengan program konseling keluarga, jam kerja yang manusiawi, dan pengakuan bahwa kesejahteraan keluarga guru adalah bagian dari kualitas pendidikan nasional.

Karena apa artinya ratusan piala di sekolah, jika satu anak kandung di rumah gagal kita selamatkan? ***