10 January 2017, 21:14 WIB
Last Updated 2017-01-10T14:14:03Z
ISU

Dituduh Makar, Rachmawati Menangis Mengenang 1965

Advertisement
Rachmwati soekarnoputri, tampak menangis saat melaporkan
kasus tuduhan makar yang dilamatkan kepada dirinya
kepadadi Pimpinan DPR, Selasa 10 Januari 2017
MEJAHIJAU.net, Jakarta - Rachmawati Soekarnoputri sempat meneteskan airmata saat mengadukan tuduhan makar yang dialamatkan kepada dirinya, kepada Wakil Ketua DPR Fadli Zon, di gedung DPR, Selasa 10 Januari 2017.

Tuduhan makar itu rupanya membangunkan kenangan pahit putri Proklamator Bung Karno tersebut pada saat-saat akan kejatuhan bapaknya di tahun 1965.

Rachmawati tidak datang sendiri, turut dalam pertemuan tersebut para tersangka makar lainya Kivlain Zein, Hatta Taliwang, Ahmad Dhani, dan istri Sri Bintang Pamungkas yaitu Ernalia Sri Bintang. 

Rachmawati menolak dikatakan akan melakukan makar, karena apa yang dilakukanya adalah melakukan di gedung DPR, dan maksud kedatangannya telah dikomunikasikan kepada Ketua MPR Zulkifli Hasan untuk memberi petisi agar UUD 1945 dikembalikan ke naskah asli.

"Pak Zulkifli mengatakan siap menemui kami di luar gedung, jadi pak Zulkifli yang keluar, untuk menerima petisi kami untuk kembali ke UUD 1945 yang asli, kata Rachmawati.

Disampaikanya, pada tanggal 20 November, Rachmawati melakukan konsolidasi dengan tokoh-tokoh nasionalis, dengan 2 tema yakni, pertama solidaritas aksi bela Islam, dan bela negara dalam upaya mengembalikan UUD '45 ke naskah asli.

"Dan sudah lama sikap politik saya, yaitu kembali ke UUD 1945 yang asli, dan karenanya saya secara tegas menolak rencana amendemen UUD' 45 ke-5. Ini bukan barang baru, tahun lalu sudah kami sampaikan. kami bermufakat untuk kembali ke UUD yang asli," tegas Rachmawati.

Rachmawati menolak dituduh akan melakukan makar, dan mengatakan dirinya difitnah akan menunggangi GNPF dan aksi Bela Islam Jilid III pada 2 Desember 2016 yang lalu.

"Saya merasa difitnah pihak kepolisian," ucap pendiri Partai Pelopor tersebut.

Dan tutuhan makar itu sepertinya begitu menyakitkan buat Rachmawati, karena katanya, di tahun 1965 dia tinggal di Istana, dan dia mengerti betul apa yang dimaksud makar.

"Pengalaman 1965, saya berada di Istana dan saya tahu apa itu makar, pasukan tidak dikenal bersenjata, mengepung Istana. Menanyakan di mana presiden. Dan kami hanya datang mau ke MPR," tutur Rachmawati sambil terisak.

Dia sempat berhenti beberapa waktu dan menangis terisak. Sejumlah tamu lain yang hadir membantunya memberikan tisu. Rachmawati kembali berbicara sambil terbata-bata.

"Saya berada di Istana, Pak, jadi bagaimana yang dikatakan makar itu saya tahu. Dan kami mau ke MPR menyerahkan petisi. Mana persinggungannya? Kalau (mau) makar, kami akan kepung istana, tapi kami ke sini, yang katanya rumah rakyat," ujar Rachmawati.

.,me