Advertisement
BANJAR , MEJAHIJAU.NET– Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Banjar dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Cecep.Dani .Sufyan . memanfaatkan masa reses untuk menyapa langsung konstituennya. Mengusung isu yang dinilai krusial bagi masa depan daerah, ia menggandeng generasi milenial dalam sebuah diskusi bertajuk pertanian modern yang berlangsung di kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKS Kota Banjar, Selasa (31/3/2026).
Dalam pertemuan yang berlangsung santai namun serius tersebut, Cecep tidak hanya duduk manis mendengarkan aspirasi. Ia secara aktif mengajak para pemuda untuk melihat sektor pertanian bukan lagi sebagai lapangan kerja kuno, melainkan sebagai lahan bisnis menjanjikan yang dikenal dengan sebutan agribisnis.
“Kita tidak bisa lagi membiarkan anak-anak muda menjauhi sawah. Saya sengaja mengangkat topik pertanian sebagai fokus utama reses kali ini karena sektor ini adalah tulang punggung ketahanan pangan kita. Namun, pengelolaannya harus berubah,” ujar Cecep di hadapan puluhan peserta yang terdiri dari petani muda dan perwakilan komunitas tani.
Cecep menjelaskan, tantangan pertanian saat ini tidak lagi sekadar masalah hama atau irigasi. Lebih dari itu, regenerasi petani menjadi pekerjaan rumah yang paling mendesak. Minimnya minat generasi Z dan milenial untuk berkecimpung di sektor ini, kata dia, akan berakibat fatal pada produksi pangan 10 hingga 20 tahun ke depan.
“Saya ajak adik-adik semua untuk melek teknologi pertanian. Saat ini sudah banyak cara bertani tanpa harus ‘kotor-kotoran’ seperti stereotip dulu. Ada hidroponik, pertanian vertikultur, hingga penggunaan drone untuk penyemprotan. Itu semua membutuhkan anak muda yang paham teknologi,” tegasnya.
Dalam diskusi yang berlangsung interaktif itu, Cecep juga menyoroti potensi besar lahan pertanian di wilayah Kota Banjar yang selama ini belum tergarap maksimal karena minimnya inovasi. Ia mendorong agar Dinas Pertanian setempat lebih agresif memberikan pendampingan dan permodalan bagi para milenial yang ingin memulai usaha di sektor hulu maupun hilir.
“Kalau hanya mengandalkan cara-cara lama, kita akan kalah dengan daerah lain. Saya akan perjuangkan agar program-program pertanian di anggaran perubahan (APBD-P) nanti lebih berpihak pada inovasi anak muda. Jangan sampai anggaran hanya untuk rutinitas, tapi harus untuk pengembangan,” tambahnya.
Salah satu peserta diskusi, Asep (24), mengaku mendapatkan perspektif baru setelah berdialog langsung dengan wakil rakyat. Menurutnya, selama ini ia menganggap bertani adalah profesi yang melelahkan dengan keuntungan yang tidak pasti.
“Tadi Pak Cecep kasih contoh soal pemasaran digital. Ternyata kita bisa jual hasil panen langsung ke konsumen lewat media sosial tanpa tengkulak. Itu yang selama ini saya butuhkan, ilmunya bukan cuma cara nanam, tapi juga cara jual,” ujar Asep.
Menutup resesnya, Cecep berkomitmen untuk menjadikan hasil dialog tersebut sebagai bahan utama dalam perumusan kebijakan di DPRD. Ia akan menginisiasi pembentukan program pelatihan agribisnis bagi milenial yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan komunitas petani.
“Saya ingin Kota Banjar memiliki lumbung pangan yang dikelola oleh generasi milenial yang cerdas dan tangguh. Ini bukan sekadar politik, ini tentang memastikan bahwa anak cucu kita nanti tetap punya makanan berkualitas,” pungkasnya. (Tito)
