26 December 2016, 01:51 WIB
Last Updated 2016-12-27T16:51:08Z
PARLEMEN

Proyek Siemens Triliunan Rupiah di Batam, Diindikasi Tidak Bayar Pajak

Advertisement
MEJAHIJAU.net, Batam- Pelan tapi pasti tentang tidak adanya legalitas projek Siemen mulai menampakkan bukti. Salah satu bukti berasal dari Tain Komari, aktivis dari LSM Kodat 86 mengatakan bahwa dirinya memiliki bukti tertulis dari PTSP ( Pelayanan Terpadu Satu Pintu ) Kota Batam yang menyatakan bahwa Simens Oil And Gas tidak terdaftar dalam Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik ( SPIPISE ) Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas Dan Pelabuhan Bebas Batam.

Surat tersebut di keluarkan pada tanggal 06 Juli 2015 dan di tandatangani kepala BP PTSP Batam Ady Soegiharto. Menurut Tain surat tersebut didapatkannya ketika mengurus permasalahan salah seorang kontraktor rekanannya yang bermasalah dengan Siemen.

“ Pekerja di perusahaan teman saya sampai demo dan hearing di DPRD Kota Batam. Siemen selain tidak memiliki izin juga ternyata bermasalah dengan pembayaran. Ini karena tidak ada legalitas di Batam sehingga kepastian dan jaminan pembayaran tidak ada sama sekali. “ Ujar Tain menyampaikan kepada Kejoranews.com.

Tain menambahkan bahwa project siemen jelas jelas mengangkangi kedaulatan NKRI. Selain itu, sudah jelas bahwa project Siemen Oil & Gas Singapura ini juga tidak membayar pajak dan berakibat merugikan pendapatan Negara.

“ Bagaimana mungkin Project Siemen bisa bayar pajak ? perusahaannya saja jelas -jelas tidak terdaftar. Saya perkirakan dari satu modul Siemen itu tidak kurang dari 40 milyar pajak yang harus di bayar. Bayangkan sudah berapa modul yang di kerjakan ? “ tambah Tain memberikan ulasan.

Ricky Indrakari, ketua komisi IV DPRD Kota Batam ketika di konfirmasi masalah ini memberikan komentar hampir senada dengan Tain.

“ Siemen jelas tidak memiliki izin dan menerapkan kejahatan Transfer Pricing yang menyebabkan Siemen tidak bayar pajak.  Orang asing yang bekerja pada proyek ini juga jelas illegal dan perlu di pertanyakan keabsahan dokumen nya. Perusahaan mana yang mensponsori mereka untuk datang dan bekerja di projek yang tidak memiliki badan usaha di Indonesia ini, “ ungkap Ricky.

Media ini sendiri pada selasa 15 november 2016 memuat berita terkait dengan Project Siemen Oil And Gas dengan link http://www.kejoranews.com/2016/11/melalui-pn-batam-pt-eip-sita-jaminan.html. Siemen di gugat oleh salah satu subcon nya yaitu PT. Eugoss Indonesia Pratama  terkait masalah tunggakan pembayaran untuk project modul Siemens Oil And Gas Singapore dengan kekurangan pembayaran senilai Rp 38 Milyard dari total Rp 120 milyard nilai project yang di kerjakan PT. Eugoss Indonesia Pratama.  Gugatan ini dimenangkan PT. Eugoss Indonesia Pratama dan membuahkan putusan sita jaminan terhadap dua modul Siemens yang di simpan di PT. Profab Indonesia.

Mulusnya perjalanan project Siemen Oil And Gas Singapore di Batam tak bisa lepas dari campur tangan PT. Catur Eka Mandiri ( PT. CEM )  yang berperan sebagai facilities Siemens Oil & Gas Pte.Ltd di Batam. Orang Asing perwakilan Siemens Oil & Gas Pte.Ltd yang di tugaskan mengawasi project Siemens di Batam di selundupkan sebagai pekerja di PT. CEM. Dalam operasional sehari hari, seluruh pekerja di project Siemens mengenakan Badge dengan logo PT.CEM.

Nilai Project Siemens Oil & Gas Pte.Ltd di Batam menurut kabar mencapai nilai fantastis,  Rp 200 Triliun. Tetapi jika melihat bahwa salah satu klien Siemen yang di selundupkan di Batam adalah Yamal LNG, maka angka ini sangat besar kemungkinan ada benarnya. Yamal LNG adalah proyek besutan dari  Novatek yang bekerjasama dengan Technip, JGC, dan Chiyoda. Technip bersama JGC dan chiyoda dari Jepang telah menandatangani kontrak senilai 4,5 milliar euro untuk pembangunan pabrik LNG dengan kapasitas produksi 16,5 juta ton pertahun.   blok Yuzhno-Tambeiskoye di Rusia dengan cadangan gas 927 milliar kubik akan menjadi pemasok untuk pabrik LNG ini.  Angka yang luar biasa dengan cadangan gas dan prospek migas yang terbuka lebar untuk Asia dan India. Sayang, jatuh di Batam jadinya seperti proyek kucing kucingan.

( Arif )