08 January 2017, 21:06 WIB
Last Updated 2017-01-08T14:06:27Z
ISU

Warga Pulau Pramuka: Anggap Ahok Tidak Nistakan Islam, Kesenjangan Apa Ini?

Advertisement
Umat Islam Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu (Ist)
MEJAHIJAU.net, Jakarta - Warga Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara secara umum tidak merasa Gubernur Nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama, telah melakukan penistaan atas agama Islam, dalam pidatonya di pulau itu 27 September 2016 yang lalu.

Namun demikian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui fatwanya tetanggal 11 Oktober 2016, menyatakan apa yang dikatakan Ahok di Pulau Pramuka adalah sebuah perbuatan menista Islam dan Ulama.

Fakta tidak adanya laporan yang dilakukan warga Muslim pulau Pramuka terhadap Ahok, menurut Habib Novel Chaidir Hasan, adalah karena kaum Muslimin di Pulau Pramuka awam pengetahuan agamanya. Hal itu dikatakan Novel saat menjadi saksi dalam persidangan lanjut kasus Penodaan Agama oleh Ahok, Selasa (3/1).

Apakah benar kaum Muslimin di Pulau Pramuka awam pengetahuan agamanya? Apakah ada kesenjangan rasa keagamaan antara umat Islam yang hidup di pulau Pramuka dengan yang ditunjukan oleh MUI dan ormas-ormas Islam yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI)


Kesenjangan

Warga Pulau Pramuka merasa keberatan dengan ucapan petinggi Front Pembela Islam (FPI) Novel Chaidir Hasan yang menyebut mereka awam memahami agama.

Salah seorang penjual nasi, Saadah (47), menyatakan, warga Pulau Pramuka adalah penganut Islam taat. Ia menyebut di Pulau Pramuka hanya ada satu keluarga yang beragama bukan Islam.

"Habib apa sih namanya? Novel ya. Dia kata di pulau seribu Islamnya bukan Islam. Di Pulau Seribu cuma dua orang yang agamanya Kristen. Orang pendatang," kata Saadah kepada kompas.com, Minggu, 8 Januari 2017.

Menurut warga lainnya, Tarni (45), meski mayoritas beragama Islam, warga Pulau Pramuka yang bukan beragama Islam tetap merasa nyaman tinggal di pulau tersebut.

Saking nyamannya, ia menyebut ada sebuah keluarga non-muslim yang seluruh anak-anaknya kemudian menjadi mualaf karena terbiasa berinteraksi dengan warga Pulau Pramuka.

"Anak-anaknya enggak ada satupun yang kristen. Orang tuanya aja yang enggak," ujar Tarni.

Ketua Masjid Jami Al Makmuriah, Faturrahman (70), menjelaskan bahwa cukup banyak orang non-muslim yang menetap di Pulau Pramuka kemudian menjadi mualaf tanpa paksaan.

"Teman saya juga ada yang masuk Islam. Kepala sekolah SMP dulu. Masuk Islam sekeluarga," ujar pensiunan guru yang sudah menetap di Pulau Pramuka sejak 1970 ini.

Namun, sebagai pihak yang menyaksikan langsung saat Ahok menyampaikan sambutannya pada 17 September 2016, warga Pulau Seribu menyatakan tak ada satupun ucapan Ahok yang menyinggung, apalagi menodai agama Islam.

Jika demikian, apakah mungkin ada kesenjangan kepentingan, antara kaum Muslimin Pulau Pramuka dengan MUI dan ormas-ormas Islam yang tergabung dalam GNPF MUI??

Tetapi faktanya, karena faktor Ahok juga, kaum Muslimin dari seluruh Indonesia rela turun ke Monas hingga mencapai angka 5-7 juta massa pada aksi Gelar Sajadah, 212.

Fenomena apa itu??



.tn