24 November 2017, 12:00 WIB
Last Updated 2017-11-24T05:00:36Z
ISU

Alumni 212 Aksi Tuntut Tangkap Ketua Fraksi Nasdem Viktor Laiskodat

Advertisement
Aksi 212
MEJAHIJAU.NET, Jakarta - Alumni 212 akan turun aksi pada hari ini, Jumat, 24 November 2017, dengan jumlah massa diperkirakan mencapai 10.000 orang, menuntut Ketua Fraksi Partai Nasdem Viktor Laiskodat ditangkap.karena telah melakukan penistaan terhadap Islam dan juga partai politik.

Aksi akan dilakukan selepas Sholat Jumat di Mesjid Cut Mutiah, Gondang Dia, Menteng, Jakarta Pusat, menuju kantor DPP Partai Nasdem yang juga berada di kawasan tersebut, lalu dilanjutkan longmarch ke kantor Bareskrim Mabes Polri, di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.

"Insya Allah, 10 ribu massa akan turun ke jalan, menuntut agar Viktor Laiskodat ditangkap," ucap Sekjen DPP Front Pembela Islam (FPI) kepada wartawan, Jumat.

Penistaan atas Islam dan juga partai politik yang dimaksud Novel, adalah terkait isi pidato Viktor di sebuah tempat di NTT, beberapa waktu lalu, yang sempat viral di medsos.

Viktor harus ditangkap dan dipenjarakan, kata Novel, karena yang bersangkutan menurutnya, bukan saja telah menistakan Islam, tetapi juga menuduh Partai Demokrat, Gerindra, PKS dan PAN, sebagai partai pendukung negara Khilafah.

"Kami minta keadilan, karena dia (Viktor) membuat kegaduhan, dan memecah belah bangsa dan kebhinekaan dan juga menyerang berdasarkan SARA," ujarnya.

Pidato Viktor di NTT tersebut pada dasarnya merupakan reaksi atas aksi ormas-ormas Islam atas diri Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, pada masa kampanye Pilgub DKI Jakarta.

Aksi-aksi kala itu sesungguhnya bernuansa SARA, selain menuntut Ahok dipenjarakan terkait penistaan Al-Quran, juga ada tuntutan mendirikan negara Islam dengan sistem Khilafah. 

Pidato Viktor juga sebagai reaksi penolakan empat partai atas Perppu No 2 Tahun 2017 tentang perubahan UU No 17 Tahun 2013 tentang Ormas, yang diterbitkan Pemerintah.


Sara Vs Sara

Dan aksi pada hari ini, yaitu aksi 2411, menuntut Viktor ditangkap, juga karena alasan SARA, dan tuduhan telah memecah belah bangsa dan kebhinekaan.

Seperti diketahui, pascapilgub DKI Jakarta, Viktor Laiskodat dalam pidatonya di suatu tempat di NTT, yang sempat viral di medsos mengatakan, ada empat partai politik yang bersikap intoleran dan mendukung sistem kekuasaan khilafah.

"Dan celakanya partai-partai pendukungnya itu ada di NTT juga. Yang dukung supaya ini kelompok ini ekstremis ini tumbuh di NTT, partai nomor satu Gerindra. Partai nomor dua itu namanya Demokrat. Partai nomor tiga namanya PKS. Partai nomor empat namanya PAN," kata Viktor pada bagian pidatonya tersebut.

"Kelompok-kelompok ekstremis ini ada mau bikin satu negara lagi, dong tidak mau di negara NKRI, dong mau ganti dengan nama negara khilafah. Negara khilafah itu berarti ... (bahasa daerah) dengan NKRI," demikian Viktor, pada bagian lain pidatonya.

Dalam pidatonya, Viktor juga meminta agar warga jangan memilih Gubernur, Bupati dan calon legislatif dari keempat partai tersebut.

"Jadi catat baik-baik, yang calon bupati, calon gubernur, calon DPR yang dari partai tadi tersebut, kalau tusuk tertusuk tumbuh untuk sampeyan pilih itu, (maksudnya, pilih supaya ganti negara khilafah)," kata Viktor pada bagian lain pidatonya. 

Viktor mengatakan, jika rakyat NTT memilih keempat partai tersebut maka bisa jadi NKRI akan hilang dan berganti dengan negara dengan sistim kekuasaan khilafah.

Kasus tersebut sebenarnya sudah dilaporkan oleh para kader keempat partai tersebut, empat bulan yang lalu. Walau demikian, laporan tersebut hanya berdasar inisiatif para kader, dan bukan laporan resmi yang dilakukan secara kelembagaan.

Aksi alumni 212 siang ini menuntut agar polisi menindaklanjuti laporan tersebut.



.ebiet/me