09 June 2020, 14:25 WIB
Last Updated 2020-06-09T07:25:51Z
AKTIVIS

Belajar dirumah jangan membebankan iuran Sekolah

Advertisement
( Umiroh Fauziah, Mahasiswa Pasacasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia )


MEJAHIJAU.NET, BANJAR - Adaptasi dunia pendidikan yang baru, semenjak pertengahan Maret 2020 lalu pemerintah mengeluarkan keputusan tentang penyelenggaraan belajar dari rumah dalam masa darurat penyebaran corona virus disease (covid-19), dalam situasi saat ini pembelajaran dari rumah melalui pembelajaran jarak jauh daring dan/ atau luring. Hal itu menjadi perhatian khusus bagi Umiroh Fauziah, Mahasiswa Pasacasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia saat dihubungi, Selasa, 9 Juni 2020.

Menurutnya, Akibat situasi ini para siswa  tidak ke sekolah, dan para guru tidak lagi mengajar disekolah. lalu muncul kebingungan bagaimana pembelajaran dirumah seperti apa dan tidak biasa karena tidak adaya persiapan. 

Umiroh menambahkan, Dalam lampiran surat edaran Kemendikbud  nomor 15 tahun 2020 menjelaskan tentang pedoman pelaksanaan pembelajaran dari rumah.

"Institusi pendidikan mulai menerapkan kebijakan tersebut. Guru memanfaatkan fasilitas teknologi untuk melakukan pembelajaran melalui google meeting room atau chat grup whatsapp yang beranggotakan orangtua/wali murid untuk memberikan informasi tugas yang harus dikerjakan siswa. Sama halnya yang diterapkan juga di perguruan tinggi dosen memberlakukan pembelajaran jarak jauh atau daring dengan mahasiswa menggunakan aplikasi meet, zoom, webex, dan yang lain, mahasiswa selain membutuhkan koneksi internet yang stabil, kuota internet yang besar dan kumpulan tugas yang banyak oleh dosen membuat sebagian mahasiswa mengeluh",Jelasnya.

Lebih lanjut Umiroh menjelaskan, hal ini dinilai bukanlah hal yang mudah di Indonesia, tidak semua daerah terdampak covid-19 memiliki akses dan fasilitas yang memadai untuk melakukan pembelajaran daring atau luring kerjasama pemeritah dengan TVRI, namun dirasa tidak cukup maksimal untuk pemebelajaran dari rumah.

"beberapa pendapat tentang kemungkinan pembelajaran dari rumah yang akan tetap diberlakukan hingga Desember akhir tahun, tentu membuat masyarakat merasa resah ditengah beban ekonomi yang tidak stabil saat pandemi",imbuhnya.

Jika benar, lanjutnya, masa pembelajaran dirumah akan diperpanjang hingga akhir tahun, maka untuk menudukung hal tersebut diharapkan pemerintah jangan lagi membebankan iuran sekolah kepada siswa/mahasiswa, dan juga pemerintah diharapkan untuk memperhatiikan siswa-siswi yang kurang mampu agar dapat menerima bantuan selama pandemi covid-19.

"sisi lain hal positif dan negative pembelajaran dari rumah, beberapa hari lalu media banyak memberitakan tentang kasus tingkat kehamilan siswi SMP dan SMA di Jepang yang meningkat di masa pandemi akibat sekolah diliburkan",tuturnya.

Umiroh menuturkan, dilansir dari health.grid.id edisi 15 Mei 2020 mencatat bahwa Departemen kehamilan rumah sakit Jinkey DiJepang melayani lebih banyak konsultasi kehamilan dari siswi SMP dan SMA. meningkatnya kehamilan siswi SMP dan SMA itu menurut wakil presiden rumah sakit Jinkey karena banyak peluang siswa puteri untuk ketemuan dengan teman dekatnya.

"Walaupun berita tersebut masih belum terbukti kebenaranya namun hal ini dapat dijadikan sebagai bentuk kewaspadaan masyarakat khususnya para orangtua untuk lebih memperketat dalam pengawasan terhadap putera-puteri nya selama sekolah masih diliburkan. Karena pengawasan anak selama belajar dirumah memang cukup menyita waktu orangtua disamping rutinitas kesibukanya. Tidak sedikit anak seringkali dibiarkan tanpa pengawasan orangtua",Pungkasnya.
 ( WAN ).